LUNYUK NURSERY GROUND HIU MARTIL ?

Pantai Petani yang berada di bagian selatan pulau Sumbawa berada dalam wilayah administratif desa Emang Lestari Kecamatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa memiliki potensi besar menjadi lokasi nursery bagi hiu Martil (Sphyrna sp). Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) bersama dengan dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa yang dilakukan pada bulan Januari 2014, menunjukkan bahwa potensi perairan Lunyuk sebagai lokasi nursery bagi anakan hiu martil sangat tinggi, terbukti dengan tingginya anakan hiu martil yang tertangkap oleh nelayan di pantai Petani setiap hari.

sape_kempo 051vvvvv

Target utama tangkapan nelayan adalah Lemuru

Anakan hiu martil yang tertangkap merupakan hasil tangkapan sampingan dari nelayan yang menangkap ikan lemuru sebagai ikan target tangkapan utama mereka. Anakan hiu Martil sering ikut terjaring saat nelayan melakukan penangkapan ikan Lemuru. Anakan hiu martil terjaring saat mereka sedang memburu lemuru yang merupakan mangsa mereka.

sape_kempo 033aaaaAnakan hiu Martil yang sering ikut terjaring ketika nelayan menangkap Lemuru

Menurut Pak Masri ketua kelompok nelayan desa Emang lestari, setiap harinya anakan hiu martil yang terjaring oleh tiap nelayan berkisar antara 3-7 ekor. Jumlah nelayan di desa Emang lestari berjumlah 60 orang yang terbagi dalam dua kelompok nelayan dan rata – rata nelayan yang turun melaut setiap hari berjumlah 8 – 15 nelayan lemuru. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring. Dengan lokasi tangkap di sekitar muara sungai Brang Be yang berada di perairan Lunyuk.

sape_kempo 001ssssHasil tangkapan sampingan nelayan Lunyuk

Hiu secara ekonomis tidak memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat di Lunyuk. Sebagian besar masyarakat di Lunyuk tidak suka mengkonsumsi hiu. Per ekor anakan hiu baik hiu Martil maupun Hiu Karang dijual dengan harga Rp. 15.000, per ekor. Pengolahan hiu dengan cara di bakar untuk konsumsi.

Potensi perairan Lunyuk yang sangat tinggi sebagai critical area tempat nursery hiu Martil menjadi pertimbangan khusus bagi WCS dan Pemda Kabupaten Sumbawa untuk melakukan pengelolaan kawasan perairan di kawasan tersebut. Inisiasi untuk membentuk Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) di Lunyuk merupakan aksi nyata dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa dalam melakukan perlindungan terhadap Critical area di Perairan Lunyuk.

“Pari Manta” antara status perlindungan dan Penangkapan

Pemerintah telah menetapkan dua jenis pari manta,yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.Penetapan status perlindunganpari manta ini mengacu pada kriteria jenis ikan yang dilindungi seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, diantaranya adalah: populasinya rawan terancam punah, masuk dalam kategori biota langka, telah terjadi penurunan jumlah populasiikan di alam secara drastis, dan/atau tingkat kemampuan reproduksi yang rendah.
Namun demikian penetapan status perlindungan penuh terhadap pari manta masih memerlukan proses sosialisasi yang cukup panjang, karena pari manta adalah salah satu target species oleh nelayan hiu di desa Tanjung luar Lombok timur. Pari manta merupakan salah satu ikan target penangkapan karena tapis insangnya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

IMG_7588Aktivitas pengangkutan Pari manta di  Tanjung luar (foto revisi17/7/2014)

IMG_7593Pari Manta yang didaratkan di  Tanjung luar Lombok timur (revisi foto 17/7/2014)

IMG_7625

Aktivitas Pemotongan Pari manta di Tanjung luar (foto revisi 17/7/2014)

Berdasarkan survey supply chain yang dilakukan WCS di Kabupaten Lombok Timur harga tapis insang kering kualitas super mencapai harga Rp.2000.000,- perKg, sedangkan harga dagingnya mencapaiRp.20.000.-perKg. Tapis insang tersebut di keringkan kemudian di kirim ke Surabaya untuk kemudian diekspor.

IMG_8824Proses pengeringan tapis insang Pari famili Mobulidae (Revisi foto 17/7/2014)

Kegiatan penangkapan pari manta masih tetap dilakukan oleh nelayan desa Tanjung luar dan desa Gili Maringkik Lombok timur. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring insang/gillnet dengan daerah penagkapan di perairan Sumba, Sumbawa selatan (kec.Lunyuk) dan perairan Nusa Penida.
Berdasarkan data dari survei pendaratan yang dilakukan oleh WCS dari bulan November 2013 – Juni 2014 terhitung 57 ekor pari dari famili Mobulidae didaratkan di TPI Tanjung Luar.

Menurut Pak Samsudin Kepala UPT TPI Tanjung luar ,Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok timur telah berusaha untuk melakukan sosialisasi terhadap kebijakan peraturan tentang status perlindungan penuh terhadap Pari manta melalui UPT TPI Tanjung luar.

Perlu perhatian dan kerjasama berbagai pihak untuk dapat melindungi Pari manta dari ancaman kepunahan.

 

TPI Tanjung Luar Pusat Pendaratan Hiu di NTB

TPI Tanjung luar merupakan salah satu tempat Pelelangan hiu terbesar di NTB, berdasarkan data dari ACIAR 2006, dari semua tempat Pelelangan yang di survei, jumlah biomassa ikan hiu yang mendarat di TPI tanjung luar mewakili 93% dibandingkan tempat Pelelangan lainnya. Tujuan utama penangkapan hiu adalah untuk diambil siripnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Walaupun demikian praktek shark finning tidak terjadi di desa Tanjung luar karena semua produk hasil hiu dimanfaatkan oleh masyarakat.

Foto: Made Dharma WCSAktivitas pelelangan hiu di TPI Tanjung luar

Sirip hiu di keringkan kemudian di kirim ke Surabaya dan jakarta untuk di ekspor, daging hiu diproses menjadi sate asap dan dijual di pasar tradisional Lombok timur, kulit hiu yang berkualitas baik di keringkan kemudian di kirim ke surabaya untuk di ekspor dan sebagian diolah menjadi produk sepatu, dompet dan produk fashion berbahan kulit lainnya. Sedangkan kulit hiu yang berukuran kecil serta berkualitas kurang baik diolah menjadi kerupuk dan dijual di pasar tradisional dan di pusat oleh – oleh khas lombok. Produk tulang dibersihkan kemudian dikeringkan dan dikirim ke surabaya untuk diekspor dan menjadi bahan campuran dalam sup sirip ikan hiu. Produk hati dan isi perut diproses menjadi minyak hiu dan di kirik ke surabaya dan produk gigi dikirim ke bali untuk dijadikan souvenir.

IMG_9901 (2)Kulit hiu kering, salah satu produk hasil hiu Tanjung luar

Penangkapan ikan hiu di desa tanjung luar menggunakan tiga alat tangkap yaitu rawai apung/ drift longline, rawai dasar/bottom longline dan jaring insang/ gillnet. Alat tangkap pancing rawai/longline merupakan alat tangkap spesifik untuk menangkap hiu sedangkan jaring insang/ gillnet adalah alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis kecil (baby tuna, tongkol, skipjactuna) untuk digunakan sebagai umpan untuk menangkap hiu dengan pancing rawe/longline. Penangkapan ikan pelagis kecil tersebut sering kali mendapatkan ikan hiu kecil sebagai hasil tangkapan sampingan. Selain ikan hiu kecil, penggunann alat tangkap gill net juga digunakan untuk menangkap ikan hiu jenis tertentu seperti basking shark dan hiu paus, namun penangkapan hiu paus sangat jarang dilakukan karena nelayan telah mengetahui status perlindungan ikan tersebut dan menurut nelayan menangkap hiu paus tidak menguntungkan karena harga nya murah sedangkan usaha untuk menangkap dan mendaratkannya sangat tinggi. Jaring insang juga digunakan nelayan untuk menangkap pari khususnya pari manta.

IMG_9876 (2)Pancing rawe/longline alat tangkap utama perikanan Hiu

Kegiatan Pelelangan hiu di TPI tanjung luar mulai sekitar jam 6:30 – 8.00 Pelelangan tidak berlangsung setiap hari karena tergantung trip kapal penangkap yang datang. Setelah kapal penangkap hiu merapat ke pantai TPI tanjung luar, maka Hiu akan diangkut oleh kelompok khusus yang disebut kelompok penguras kapal yang anggotanya 4-6 orang. Setiap pemilik kapal memiliki langganan kelompok tenguras tersendiri yang bertanggung jawab dalam persiapan loading perlengkapan trip saat kapal akan berangkat, mengangkut hasil tangkapan dari kapal ke tempat pelelangan di TPI tanjung luar. Kelompok ini mendapatkan bagian hasil dari penjualan hiu hasil tangkapan pertrip.

IMG_5260Aktivitas kelompok pengangkut hiu/penguras di TPI Tanjungluar

Setelah semua hiu didaratkan di bawa ketempat pelelangan, pelelangan dimulai pukul 08.00 yang dipimpin oleh juru lelang dari UPT TPI Tanjung Luar. Ikan hiu yang di lelang adalah ikan hiu yang berukuran besar panjang total > 1,3 m. Peserta lelang adalah para pengepul produk hiu yang berasal dari desa Rumbuk( desa sentra pengolahan produk hiu) dan dari desa tanjung luar. Berdasarkan data WCS jumlah pengepul besar dari produk hiu berjumlah empat orang (2 orang dari desa tanjung luar dan 2 orang dari desa Rumbuk. Masing –masing pengepul besar memiliki 2 orang asisten merangkap pengepul kecil yang mencari hiu berukuran kecil yang tidak masuk lelang. Hiu ukuran kecil tersebut biasanya merupakan hasil tangkapan sampingan nelayan pelagis kecil yang menggunakan jaring insang atau hasil tangkapan saat nelayan hiu menangkap umpan untuk pancing rawe/ longline. Untuk pari manta tidak masuk dalam lelang karena status pari manta adalah perlindunga penuh. Sehubungan dengan status perlindungan penuh terhadap pari manta

IMG_0317Hiu berukuran kecil yang tidak masuk dalam lelang

Setelah lelang berakhir, maka pengepul yang memenangkan lelang akan memotong langsung hiu tersebut di TPI Tanjung luar. Pemotongan hiu diorganisi oleh kelompok pemotong yang berjumlah 6 orang dengan upah Rp.5000, per ekor hiu dan Rp.15.000, untuk per ekor pari manta. Proses pemotongan dimulai dengan memotong semua sirip hiu kemudian mengeluarkan isi perut dengan membelah bagian bawah badan hiu, kemudian memisahkan tulang punggungnya, kemudian dilanjutkan dengan proses menguliti kulit hiu dan terakhir memotong – motong daging hiu menjadi ukuran tertentu.

IMG_8712Proses pemotongan hiu oleh kelompok pemotong

Semua produk tersebut dipisahkan dan dimasukkan kedalam karung yang terpisah. Semua produk hiu tersebut kemudian diangkut dengan truk engkel ke sentra pengolahan hiu di desa rumbuk. Pengankutan diorganisir oleh salah satu pengepul besar.

IMG_8923Aktivitas pengangkutan hiu yang sudah dipotong dari TPI Tanjungluar ke sentra pengolahan

Setelah tiba di sentra pengolahan hiu, sirip kemudian di jemur/ dikeringkan, tulang direbus untuk menghilangkan sisa daging yang menempel pada tulang kemudian di keringkan. Daging hiu di jual kembali kepada kelompok pembuat sate hiu yang ada di desa rumbuk.

IMG_8839Proses pembuatan sate hiu asap di sentar pengolahan produk Hiu

Berdasarkan data WCS kelompok pembuat sate hiu berjumlah 10 orang dan masing – masing anggota kelompok memiliki 5-8 pekerja mencakup proses pembuatan sate asap dan tenaga penjual di pasar tradisional.

Sejarah Perikanan Hiu Desa Tanjung Luar

Desa Tanjung luar yang berada di kecamatan Kruak kabupaten Lombok timur merupakan salah satu tempat pendaratan dan pelelangan ikan yang cukup besar di Pulau Lombok. Salah satu jenis perikanan yang didaratkan di TPI tanjung luar adalah jenis perikanan Hiu. Ikan hiu atau yang sering disebut Kluyu oleh masyarakat desa Tanjung Luar merupakan jenis ikan yang sering mereka tangkap dari nenek moyang mereka. Berdasarkan informasi sejarah dari penduduk desa tanjung luar, keberadaan ikan hiu sekitar 30 tahun yang lalu sangat banyak di perairan desa Tanjung luar dan Selat alas, sehingga walaupun mereka tidak bertujuan untuk memangkap ikan hiu tetapi ikan hiu yang lebih sering memakan umpan pancing mereka dan tertangkap dalam jaring mereka. Karena seringnya ikan hiu tertangkap maka pengolahan ikan hiu untuk konsumsi mulai dilakukan.

IMG_0373Aktivitas pengolahan hiu secara tradisional

Penangkapan ikan hiu secara lebih intensif terjadi mulai tahun 1999 yang dilakukan oleh nelayan dari muncar Banyuwangi. Pada tahun 1999 beberapa kapal dari daerah Muncar Banyuwangi yang bertujuan menangkap tongkol di perairan selatan Bali hanyut dan tersesat hingga ke Tanjung luar dan karena cuaca buruk maka nelayan tersebut berlindung di perairan Tanjung Luar. Sambil menunggu cuaca membaik, nelayan tersebut menebar jaring insang yang mereka bawa untuk menangkap tongkol di perairan tanjung luar dengan tujuan untuk mengurangi rugi biaya operasional. Setelah berkali – kali menebar jaring, ikan yang dominan tertangkap adalah ikan hiu dengan berbagai jenis dan ukuran yang besar. Mengetahui hal tersebut maka sejak tahun 2000 penangkapan ikan hiu semakin intensif dilakukan di Tanjung luar.

Periode tahun 2000 – 2006 merupakan puncak penangkapan ikan hiu di Tanjung luar, dalam periode tersebut, jumlah kapal penagkap hiu bertambah secara signifikan bahkan mencapai jumlah tertinggi yaitu 66 unit armada kapal penangkap hiu yang memiliki ukuran rata – rata 10 GT.Para pemilik kapal juga berpindah tempat dengan membeli perumahan di BTN tanjung luar.

Setelah tahun 2006, hasil tangkapan hiu semakin berkurang sehingga nelayan penangkap berusaha untuk mencari lokasi tangkap lainnya yang jaraknya semakin jauh dari lokasi Pelelangan di TPI Tanjung luar.

Pada tahun 2010 adalah masa paling sulit bagi nelayan penangkap hiu, karena pada saat itu hasil tangkapan mereka sangat sedikit, bahkan beberapa nelayan mengatakan bahwa hiu telah habis di Tanjung luar. Seiring dengan itu, harga BBM juga mengalami peningkatan sehingga biaya operasional yang mereka keluarkan sangat tinggi sedangkan hasil tangkapan hiu tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional. Sehingga hal ini berdampak semakin berkurangnya armada kapal penangkap hiu. Jumlah armada kapal penangkap hiu terus berkurang hinga saat ini tahu 2014 berdasarkan data dari kantor UPT TPI Tanjung Luar, jumlah armada kapal penagkap hiu di tanjung luar berjumlah 26 armada yang terdiri dari 16 armada dari desa tanjung luar dengan ukuran > dari 10GT, 5 armada kapal dari desa gili maringkik yang merupakan pemekaran dari desa Tanjung luar dengan ukuran kapal rata – rata 10Gt dan armada kapal penangkap hiu minyak dari famili Squalidae dari dusun kampung Koko desa Tanjung luar sebanyak 5 armada.

IMG_1960Armada kapal penangkap hiu desa Tanjung luar

Ukuran kapal penangkap ikan hiu minyak rata – rata dibawah 10GT. Selain faktor tingginya biaya operasional, pemilik kapal juga mengalami kesulitan dalam mencari ABK kapal yang jumlahnya minimal empat orang dalam satu kali trip. Kondisi ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat hiu mudah di dapat dimana banyak yang ingin menjadi ABK untuk mengikuti trip penangkapan hiu. Sulitnya mendapatkan ABK karena ketidakpastian hasil yang diterima oleh ABK yang mendapatkan penghasilan dari sistem bagi hasil dengan pemilik kapal.

Berdasarkan data survei sosial ekonomi yang dilakukan oleh Wildlife Conservation Society (WCS), tingkat resistensi pemilik kapal penangkap hiu terhadap penangkapan hiu sangat tinggi sehingga tetap bertahan walupun kondisi sumberdaya semakin berkurang dan biaya operasional yang semakin tinggi. Para pemilik kapal yang tersisa memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap kondisi perikanan hiu. Untuk mengatasi kondisi sulit tersebut, para pemilik kapal yang masih tersisa berhasil bertahan dalam usaha mereka dengan membawa lebih dari satu alat tangkap. Target penangkapan mereka bukan hanya ikan hiu saja namun juga dengan kombinasi menangkap ikan pelagis kecil untuk dapat memenuhi biaya operasional mereka. Penangkapan ikan pelagis kecil yang dahulunya hanya sebagai umpan untuk pancing rawe/ long line hiu kini menjadi ikan target juga untuk memenuhi biaya operasional. selain itu yang menjadi ABK adalah orang – orang yang memiliki hubungan keluarga dekat sehingga dalam satu trip mereka tidak akan kembali ke desa mereka sebelum biaya operasional minimal terpenuhi. Sehingga dengan sistem demikian para pemilik kapal ini dapat tetap bertahan hingga saat ini. Selain itu dengan berkurangnya jumlah armada kapal penangkap hiu, hasil tangkapan hiu dan ikan pelagis kecil mereka cukup stabil dan dapat memenuhi kebutuhan minimal operasional.

Kegiatan Perdagangan Ikan Desa Tanjung Luar

Desa tanjung luar kecamatan Kruak kabupaten Lombok timur Nusa Tenggara Barat. Desa tanjung luar memiliki fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dikelola oleh dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB dan DKP Kabupaten Lombok Timur. PPI maupun TPI tersebut berlokasi pada tempat yang sama namun terdapat pembagian tugas sesuai tupoksi masing – masing. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) desa Tanjung luar yang dikelola oleh DKP Kabupaten Lombok Timur merupakan pusat perdagangan berbagai jenis ikan seperti ikan damersal (Kerapu,kakap, pari, belut laut dan ikan karang lainnya), ikan pelagis kecil (tongkol,cakalang), ikan pelagis besar(tuna sirip kuning, layaran, tumbuk), udang dan kepiting. Sebagian besar ikan tersebut berasal dari berbagai pelabuhan atau tempat pendaratan ikan tradisional yang terdapat di sekitar kecamatan kruak yang diangkut dengan mobil bak terbuka ke TPI Tanjung Luar. Selain itu TPI tanjung luar juga berdampingan dengan pasar tradisional desa sehingga TPI tanjung luar merupakan pusat perekonomian yang selalu ramai di pagi hari saat semua aktivitas jual beli terjadi.

Foto: Made Dharma WCSAktivitas perdagangan berbagai jenis ikan di TPI Desa Tanjung Luar

Tempat pelelangan ikan desa tanjung luar juga memiliki fasilitas penjualan BBM yang dikelola oleh pertamina sehingga nelayan tidak mengalami kesulitan dalam mencari BBM untuk melaut. Selain tempat pembelian BBM, TPI tanjung luar juga memiliki fasilitas coldstorage dan tempat pemindangan ikan. Saat pagi hari aktivitas pemindangan ikan juga tidak kalah ramainya dengan aktivitas jual beli ikan.

Foto: Effin Mutakin WCSAktivitas pemindangan ikan di TPI Tanjung Luar

Tempat Pelelangan Ikan Tanjung Luar memiliki aktivitas khusus yaitu tempat pendaratan dan pelelangan berbagai jenis ikan Hiu. TPI tanjung luar memang dikhususkan oleh pemda Kabupaten Lombok timur sebagai tempat pendaratan dan pelelangan ikan hiu.

Foto:Effin Mutakin WCSAktivitas pengankutan hiu dari kapal ke lokasi pelelangan

Selain pendaratan dan pelelangan, aktivitas pendataan juga dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan  Lombok timur bekerjasama dengan Wildlife Conservation Society (WCS). Pendataan secara umum telah dilakukan sejak TPi ini didirikan, namun pendataan secara spesifik  dan khusus terhadap perikanan hiu baru diinisiasi sejak tahun 2013.

IMG_2719[1]Aktivitas pendataan hiu yang didaratkan oleh petugas UPT TPI Tanjungluar

Kegiatan pendataan ini bertujuan untuk mengumpulkan data penting tentang perikanan hiu seperti jumlah dan jenis hiu yang didaratkan, ukuran panjang hiu, berat hiu, kapal penangkap serta data opersional dalam penangkapan hiu pertrip. Diharapkan dengan adanya data harian yang tidak terputus dapat menjadi data dasar untuk mengeluarkan kebijakan pengelolaan perikanan hiu dikemudian hari. telah banyak kegiatan pendataan perikanan hiu yang dilakukan sejak tahun 2005 yang dilakukan oleh berbagai instansi, yang peduli terhadap pengelolaan perikanan hiu agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, baqik itu dari instansi pemerintah, universitas dan lembaga swadaya masyarakat. Dengan banyaknya usaha yang telah dilakukan diharapkan dapat dikolaborasikan sehingga dapat menghasilkan suatu model pengelolaan perikanan hiu yang lestari dan berkelanjutan.